![]() |
| Bapak Saiman Saat Membersihkan sendiri sampah di Pantai Pajala |
SULTRAPOS.ID - Objek wisata akan selalu tampak indah bila dikelola dengan rapi, bersih, dan penuh kepedulian. Namun di balik semua keindahan itu, selalu ada tangan-tangan tulus yang bekerja dalam diam. Di Kabupaten Muna Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara, terdapat salah satu objek wisata unggulan yang kini semakin dikenal: Pantai Pajala.
Pantai ini menyuguhkan hamparan pasir lembut, pulau kecil yang menjadi ikon, dan senja yang tak pernah gagal memanjakan mata. Namun lebih dari panorama yang memukau, Pantai Pajala memiliki satu kisah yang justru jauh lebih menyentuh: kisah tentang Bapak Saiman, seorang pria berusia 82 tahun yang setiap hari masih setia menjaga kebersihan pantai itu.
Setiap pagi, tepat pukul 07.00 Wita, Saiman melangkah dari rumahnya menuju pantai. Tanpa banyak keluhan, tanpa banyak bicara, ia menjalankan tugasnya yang diberikan oleh Dinas Pariwisata Muna Barat—membersihkan sampah di area Pantai Pajala. Di usia yang renta, ketika tubuh seharusnya lebih banyak beristirahat, Saiman justru menunjukkan energi pengabdian yang sulit ditandingi.
“Pagi tadi jam 7 saya datang di sini, saya bersihkan sampah-sampahnya,” ujarnya singkat saat ditemui di Pantai Pajala.
Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan halus bagi kita semua. Bagaimana mungkin seorang lelaki berusia 82 tahun masih sanggup mengabdikan diri menjaga kebersihan wisata daerah, sementara para generasi muda yang sehat dan kuat sering kali justru lengah dan abai?
Di balik tubuh tuanya, ada jiwa besar yang percaya bahwa lingkungan bukan hanya tempat untuk dikunjungi, melainkan warisan yang harus dijaga. Saiman mengajarkan bahwa cinta terhadap daerah tidak selalu diwujudkan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan yang nyata, sekecil apa pun itu.
Karena itu, sangat wajar jika muncul pertanyaan:
Apakah Bapak Saiman layak mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Daerah?
Jawabannya, bukan hanya layak, tetapi seharusnya.
Pengabdian sepanjang itu bukan sekadar pekerjaan, tetapi bentuk ketulusan yang layak dihargai, dirayakan, bahkan dijadikan teladan. Pemerintah daerah memiliki kesempatan besar untuk menunjukkan bahwa mereka melihat, mengakui, dan menghargai setiap perjuangan warganya, terutama sosok-sosok seperti Saiman yang menjaga citra pariwisata bukan dengan pidato, tetapi dengan tindakan nyata.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kisah Saiman mengingatkan kita bahwa pembangunan tak selamanya soal beton dan infrastruktur—melainkan juga soal karakter dan kepedulian.
Jika Saiman yang berusia 82 tahun saja mampu menjaga Pantai Pajala tetap bersih dan indah, maka seharusnya kita—generasi muda—lebih mampu, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab untuk melanjutkan estafet pengabdian itu.
Saiman mungkin hanya satu orang, tetapi ketulusannya telah menjadikan Pantai Pajala bukan hanya indah dipandang mata, tetapi juga indah untuk dikenang.
Dan untuk itu, setidaknya kita berhutang satu hal: pengakuan.





0 Komentar