![]() |
| ABN, Korban Pencabulan |
MUNA BARAT, SULTRAPOS.ID – Tabir kebohongan yang menutupi dugaan pencabulan santri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Muna Barat kini kian tersibak. Fakta mengejutkan terungkap, korban disebut-sebut dibohongi dengan dalih bahwa pelaku bukan manusia, melainkan “jin yang menyamar” menjadi ustaz.
Pengakuan itu disampaikan korban berinisial ABN (16) saat ditemui di kediamannya, Rabu, 28 Januari 2026. Narasi mistis tersebut muncul setelah ia mencoba melaporkan pelecehan yang dialaminya kepada kakak-kakak senior di pondok.
Alih-alih mendapat perlindungan, pengakuan ABN justru berujung pada sebuah musyawarah internal yang sarat upaya pembungkaman. Hasilnya, korban diberi tahu bahwa pelaku bukan ustaz yang kini menjadi terduga, melainkan jin yang menyamar menyerupai dirinya.
“Senior bilang, menurut salah satu ustaz, yang mencabuli itu bukan beliau, tapi jin yang menyerupai beliau,” ujar ABN.
Dalih tersebut menjadi tameng untuk menghentikan pengusutan. ABN dan para santri lain diminta tidak memperpanjang masalah, diminta diam, dan hanya disuruh memperbanyak istigfar seolah-olah mereka hanya menjadi korban gangguan makhluk gaib, bukan kejahatan seksual.
Padahal, secara batin, luka dan trauma tak pernah pergi. Kebohongan itu akhirnya runtuh ketika isu pelecehan mulai bocor ke luar pondok. Terduga pelaku kemudian kembali mengumpulkan para korban. Dalam pertemuan itu, ia justru mengakui perbuatannya dan meminta maaf — namun bersamaan dengan itu, ia juga meminta para korban tetap menutup mulut demi “nama baik” pondok pesantren.
“Di situ saya bingung. Dulu dibilang jin, sekarang beliau sendiri yang mengaku dan minta maaf,” kata ABN.
Pengakuan ini memperlihatkan dugaan pola sistematis: mulai dari manipulasi, penyebaran narasi mistis, hingga tekanan moral untuk membungkam korban demi melindungi institusi dan pelaku.
Dalam posisi sebagai santri aktif yang hidup di bawah kontrol pondok, ABN mengaku nyaris tak punya pilihan selain diam. Rasa takut, tekanan psikologis, dan relasi kuasa membuat para korban terkunci dalam keheningan.
Kini, setelah keluarga korban melapor ke kepolisian dan proses hukum berjalan, kisah “jin menyamar” itu terbuka sebagai bagian dari dugaan rekayasa untuk menutup kejahatan.
Para korban berharap aparat penegak hukum mengusut tuntas bukan hanya tindakan pencabulannya, tetapi juga siapa saja yang terlibat dalam upaya pembungkaman dan penyesatan korban.
Kasus ini bukan lagi sekadar dugaan pelecehan, melainkan juga dugaan kejahatan yang diselubungi kebohongan sistematis.
Reporter: Sry



0 Komentar