Breaking News

Salah Sebut di Facebook, Ponpes Khairu Ummah Tegaskan Tak Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Santri

  


MUNA BARAT, SULTRAPOS.ID — Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Khairu Ummah yang berlokasi di Desa Lemoambo, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat, sempat terseret dalam perbincangan publik di media sosial terkait kasus dugaan pelecehan santri yang viral beberapa hari terakhir. Padahal, ponpes tersebut dipastikan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan kasus yang dimaksud.

Kasus dugaan pelecehan santri yang ramai diperbincangkan di media sosial tersebut disebut terjadi di Pondok Pesantren Darul Mukhlasin As-Saniy yang berada di Desa Kasaka, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat. Informasi itu kemudian menyebar luas dan memicu beragam komentar warganet.

Namun, dalam salah satu unggahan Facebook yang membahas kasus tersebut, nama Pondok Pesantren Khairu Ummah justru ikut disebut dalam kolom komentar. Penyebutan ini memicu kesalahpahaman publik dan berpotensi mencederai nama baik lembaga pendidikan keagamaan yang tidak memiliki hubungan dengan peristiwa tersebut.

Adapun penyebutan nama Ponpes Khairu Ummah bermula dari komentar akun Facebook bernama Siti Marwia yang menuliskan kalimat “bantu jawab ponpes Khairul Ummah”. Komentar tersebut dinilai keliru dan salah sasaran karena mengaitkan Khairu Ummah dengan kasus dugaan pelecehan santri yang disebut terjadi di ponpes lain.

Menanggapi hal itu, pihak Pondok Pesantren Khairu Ummah menyatakan keberatan dan menegaskan bahwa lembaga pendidikan yang mereka kelola sama sekali tidak terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam kasus dugaan pelecehan santri di Pondok Pesantren Darul Mukhlasin As-Saniy sebagaimana yang beredar di media sosial.

Sebagai bentuk tanggung jawab atas komentar yang dituliskannya, pada Kamis, 22 Januari 2026, Siti Marwia mendatangi langsung Pondok Pesantren Khairu Ummah untuk menyampaikan klarifikasi. Klarifikasi tersebut dilakukan di lingkungan pondok pesantren dan direkam dalam sebuah video, disaksikan serta didampingi oleh guru Pondok Pesantren Khairu Ummah.

Dalam video klarifikasi tersebut, Siti Marwia mengakui bahwa penyebutan nama Pondok Pesantren Khairu Ummah dalam konteks kasus dugaan pelecehan santri merupakan kesalahan besar dan murni salah sasaran. Ia juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pimpinan ponpes, para guru, santri, serta alumni.

“Kepada pimpinan Pondok Pesantren Khairu Ummah, para guru, santri, dan alumni yang saya kaitkan dengan kejadian dugaan pelecehan santri di salah satu pondok pesantren di Muna Barat, padahal seharusnya bukan di Khairu Ummah, itu adalah kesalahan besar yang saya lakukan. Dengan ini saya menyesali perbuatan saya dan memohon maaf yang setinggi-tingginya kepada keluarga besar Pondok Pesantren Khairu Ummah. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal serupa dan akan menghapus komentar saya di Facebook,” ujarnya.

Klarifikasi tersebut sekaligus meluruskan informasi yang sempat beredar di media sosial serta menegaskan bahwa Pondok Pesantren Khairu Ummah tidak memiliki hubungan apa pun dengan kasus dugaan pelecehan santri yang tengah viral.

Sementara itu, Ketua Pondok Pesantren Khairu Ummah, La Malu, saat dihubungi melalui WhatsApp berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

“Harapan saya, semoga Pondok Pesantren Khairu Ummah tetap semangat dalam menyelenggarakan pendidikan formal maupun kegiatan pembelajaran pesantren, untuk mempersiapkan generasi yang beriman dan bertakwa serta siap menjadi pemimpin masa depan bangsa, terutama dalam meningkatkan kualitas dakwah Islam,” ujarnya.

Pihak Pondok Pesantren Khairu Ummah berharap, dengan adanya klarifikasi ini, tidak lagi muncul informasi keliru yang dapat merugikan dan mencederai nama baik lembaga pendidikan keagamaan yang tidak memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut.

Reporter: Sry

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Media Online sultrapos.id