![]() |
| Ilustrasi |
MUNA BARAT, SULTRAPOS.ID – Luka batin yang dipendam bertahun-tahun akhirnya merobohkan tubuh dan jiwa seorang santri berinisial ABN (16) di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Muna Barat (Mubar). Remaja itu diduga menjadi korban pelecehan seksual, hingga mengalami sakit berkepanjangan dan depresi berat selama lima bulan.
Kakak korban, Rahman, mengungkapkan bahwa sejak Agustus 2025, kondisi adiknya mulai berubah drastis saat masih mondok. Tubuhnya sering sakit, perilakunya menjauh, dan mentalnya terlihat terguncang. Namun saat itu, keluarga belum mengetahui bahwa yang dialami korban bukan sekadar sakit biasa, melainkan trauma mendalam akibat dugaan kekerasan seksual.
“Kami kira hanya sakit biasa waktu masih di pondok,” ujar Rahman kepada SULTRAPOS.ID, Minggu (1/2/2026).
Namun dugaan itu runtuh ketika korban dipulangkan. Di rumah, kondisinya justru semakin mengkhawatirkan. ABN sering melamun, tampak linglung, menutup diri dari keluarga, bahkan disebut seperti orang yang kehilangan kendali atas pikirannya sendiri.
“Dia sering kemasukan, melamun, tidak mau berbaur. Seperti orang yang jiwanya tertekan berat,” ungkap Rahman dengan suara bergetar.
Keluarga tak tinggal diam. Berbulan-bulan mereka berjuang menyembuhkan ABN. Ia dibawa berobat ke berbagai tempat, bahkan hingga Sulawesi Selatan, daerah asalnya. Namun semua upaya medis dan pengobatan alternatif tak kunjung membuahkan hasil.
“Kami sudah bawa berobat ke mana-mana, sampai ke Sulsel, tapi tetap tidak membaik,” katanya.
Titik terang baru muncul ketika keluarga mulai menyadari bahwa ada beban psikologis yang selama ini dipendam korban. Dengan pendekatan perlahan dan penuh empati, mereka mendorong ABN untuk jujur. Dan di situlah, kebenaran pahit terungkap: ia mengaku telah mengalami pelecehan selama berada di pondok pesantren.
“Setelah kami beri pengertian supaya dia jujur, barulah dia cerita semua,” kata Rahman.
Ironisnya, setelah pengakuan itu keluar, kondisi korban justru mulai membaik. Seolah beban yang lama menghimpit jiwanya akhirnya terangkat. Kini ABN telah kembali bersekolah, bisa bergaul, dan mulai menjalani hidup secara normal.
Namun di balik pemulihan itu, tersimpan kekecewaan besar terhadap pihak pesantren. Rahman mengungkapkan bahwa selama adiknya sakit parah di pondok, pihak pesantren diduga menutupi kondisi korban dari keluarga.
“Saya datang bawa uang bulanan, tapi adik saya tidak bisa ditemui. Uangnya dititipkan ke ustazah. Ternyata saat itu dia terbaring sakit di masjid. Tapi mereka tidak bilang apa-apa ke kami,” ungkapnya geram.
Kini, dugaan pelecehan seksual di lingkungan pesantren tersebut telah menjadi perhatian publik dan tengah diproses aparat penegak hukum. Keluarga korban berharap negara tidak tunduk pada institusi atau simbol apa pun, dan keadilan benar-benar ditegakkan untuk korban yang nyaris hancur oleh trauma.
“Kami cuma mau satu: kebenaran dibuka, dan pelaku bertanggung jawab,” tegas Rahman.
Reporter: Sry



0 Komentar