![]() |
| Dr. H. Pendais Hak dalam sebuah kegiatan. FOTO: Dok. Pribadi |
Oleh: Dr. H. Pendais Hak
Kepala Pusat Moderasi Beragama UHO
Ibadah puasa disebut juga dengan ibadah satu bulan. Jelas karena pelaksanaannya berlangsung selama satu bulan penuh di bulan ramadan. Jika seseorang yang tidak cukup puasanya karena uzur (halangan) maka wajib mengganti puasanya di bulan lain.
Biasanya, di penghujung puasa ada pertanyaan yang menarik dan urgen bagi seorang muslim yang melaksanakannya. pelajaran apa yang dipetik dari ibadah puasa ini. Tentunya suatu pelajaran hanya bisa ditarik dari suatu proses pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Kesungguhan pelaksanaan juga sangat menentukan ketercapaian dari tujuan puasa itu sendiri.
Seiring dengan pelaksanaan puasa yang telah berjalan hingga di penghujung bulan, di tahun 1447 H, paling tidak ada tiga pelajaran selain mengacu pada pandangan beberapa ulama, salah satunya Muh. Ali Ashabuni, juga berdasarkan pengalaman kebatinan penulis.
Pertama. Pelajaran imsak yaitu menahan
Setiap individu yang melaksanakan puasa dituntut untuk melatih (membiasakan) diri menahan, dan yang paling kongkrit menahan diri untuk tidak makan, minum, dan tidak melakukan hubungan suami-istri di siang hari. Secara abstrak menahan dari dari sisi puasa hati untuk tidak berbohong, tidak membenci, tidak memfitnah, dan termasuk penyakit hati lainnya. Pelajaran dan output spritual dari menahan ini adalah pengendalian diri (emocional qution) membangun kecerdasan emosional. Pengendalian diri salah satu karakter dilandasi dengan sikap sabar, dapat dibangun dari prilaku imsak.
Kedua. Membangun integritas diri
Puasa disebut juga dengan ibadah shir "ibadah rahasia". Disebut rahasia karena pelaksanaan puasa itu lebih bersifat abstrak (tidak terlihat). Kedudukan puasa pun sah atau tidak, benar atau tidak puasa itu yang tahu hanyalah Allah dan kita sendiri.
Kemudian dari sisi kemakbulan (penerimaan) apakah puasa itu diterima atau ditolak sekalipun itu ranah dan domain Allah SWT, akan tetapi seseorang pelaku puasa bisa merasakan dan mengevaluasi diri dalam sehari, bahwa tidak sekedar mempuasakan fisiknya saja tetapi juga ikut mempuasakan hatinya sebagai bagian prasyarat dari diterimanya puasa.
Pada titik inilah integritas pelaku puasa dibangun. Dia berpuasa bukan karena hal lain tetapi semata-mata bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Menjaga diri untuk tidak makan-minum juga tidak melakukan hal-hal yang merusak hati, merupakan bentuk pengejawantahan kerahasiaan antara manusia dan Tuhannya, dan inilah bentuk integritas sejati, yang akan memberi dampak secara luas dalam aspek kehidupan yang lain.
Ketiga. Mawazin bainal dunia wal akhirah
Bainal jismun walruh. Pelajaran untuk membangun keseimbangan orientasi hidup antara dunia dan akhirat. Juga pelajaran menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Keseimbangan hidup itu mutlak harus dimiliki seorang manusia. Banyak ayat menjadi acuan tentang ini, salah satunya Q.S. Al-qashas ayat 77.
Ayat ini mengarahkan tentang pentingnya menyeimbangkan ibadah yang berorientasi akhirat dan mencari nafkah yang berorientasi dunia. Puasa memberi pelajaran bahwa jika selama 11 bulan orientasi hidup lebih banyak memikirkan kebutuhan fisik jasmani, maka ada saatnya kita kolling down sejenak di bulan ramadhan dengan memberikan porsi perhatian lebih besar pada kebutuhan rohani kita.
Bahwa dalam diri kita ada dua unsur utama yaitu jasad dan ruh. Keduanya memiliki hak dan perhatian yang sama. Disinilah letak pelajaran puasa, mengurangi makan-minum, mengurangi tidur, sebaliknya memperbanyak ibadah, mendekatkan ruh kita sebanyak mungkin dengan penciptanya. Pada titik inilah arti dan makna keseimbangan dibangun.
Tentunya masih banyak pelajaran yang lain. Apalagi pengalaman dan suasana kebatinan pelaku puasa juga berbeda-beda. Tetapi paling tidak tiga pelajaran itu bisa berlaku secara universal. Selanjutnya pengambil pelajaran dari puasa itu penting tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menjaga konsistensinya lalu mengaplikasikannya pada 11 bulan kedepan.
Wallahu a'lam bissawab.



0 Komentar