![]() |
| Dr. H. Pendais Hak saat melaksanakan salah satu kegiatan. FOTO: Dok. Pribadi |
Penulis Merupakan Kepala Pusat Moderasi Beragama LPMPP UHO/Pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor Korwil Wilayah Sulawesi
Setiap tahun saat Idul Adha tiba, kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS kembali diceritakan dan diangkat dalam berbagai bentuk, baik melalui dakwah, cerita lepas, bahkan melalui tulisan. Karena itu, pertanyaan yang muncul, apa yang menarik dari Kisah Ibrahim AS dengan Ismail AS, sehingga tak pernah lekang ditelan zaman?
Bagi sebagian orang mungkin, kisah itu terdengar jauh dan sakral. Namun jika dibaca dengan cermat, di dalamnya tersimpan nilai spritual dan kerangka etika yang sangat dalam dan bahkan selalu relevan untuk menghadapi kompleksitas hidup modern.
Terlebih fenomena kehidupan manusia saat ini, diperhadapkan dengan masalah yang kompleks, baik secara global maupun nasional. Dalam konteks itulah, kisah ini seakan menemukan momentumnya. Betapa tidak, kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia sejatinya dapat menghasilkan peradaban dan keadaban yang mengokohkan dirinya sebagai acuan patron dari mahluk-mahluk yang lain di bumi Ini.
Fakta yang terjadi jauh panggang dari api. Sikap dehumanisasi, individualisme, dan egoisme, serta cara hidup yang lebih mekanis dan pragmatis menjadi ukuran dasar dalam relasi sosial. Bahkan hidup jauh dari nilai-nilai spritualitas dianggap bukan lagi sesuatu yang tabuh dalam kehidupan masyarakat.
Efek modernisme semakin masif dalam sikap dan gaya hidup era kekinian, khususnya pada generasi muda. Karenanya dalam konteks inilah keteladan Ibrahim AS dan Ismail AS diperlukan.
Ketaqwaan Ibrahim AS: Etika Memilih Prinsip di Atas Kenyamanan
Ibrahim AS dikenal sebagai bapak para nabi. Ia bukan hanya taat, tetapi juga berpikir kritis. Sebelum menerima perintah ilahi, ia telah melalui proses pencarian panjang tentang kebenaran. Ketika akhirnya mendapat perintah yang berat, ia tidak menawar.
Ketaqwaan Ibrahim AS bukan ketaatan buta. Ia adalah bentuk komitmen pada nilai yang lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. Dalam bahasa etika modern, ini disebut principle action atau tindakan yang berlandaskan prinsip.
Kita melihat relevansinya hari ini. Seorang pegawai yang menolak ikut serta dalam praktik korupsi di kantornya sedang meneladani Ibrahim. Seorang pengusaha yang memilih meninggalkan bisnis cepat untung karena merugikan lingkungan juga demikian. Pilihan-pilihan ini tidak mudah. Ia menuntut pengorbanan waktu, uang, bahkan status sosial.
Namun di sinilah inti ketaqwaan: kesediaan untuk mengatakan "tidak" pada sesuatu yang menguntungkan secara materi, tetapi merusak secara moral. Tanpa sikap ini, etika hanya menjadi wacana di atas kertas.
Kesabaran Ismail AS: Etika Menerima Realitas Tanpa Kehilangan Arah
Respons Ismail AS terhadap perintah ayahnya patut menjadi perhatian. Ia tidak menolak, tidak marah, dan tidak lari. Jawabannya: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar," menunjukkan kematangan sikap.
Kesabaran Ismail AS bukanlah kepasrahan yang melumpuhkan. Ia adalah penerimaan aktif terhadap realitas yang tidak bisa diubah, disertai kesiapan untuk tetap bertindak secara bermartabat. Dalam psikologi modern, sikap ini dekat dengan konsep resilience atau ketangguhan.
Misalnya, dalam beberapa fenomena kehidupan yang kita rasakan saat ini, kita sering dihadapkan pada hal-hal di luar kendali: PHK mendadak, kegagalan rencana, atau kehilangan orang tercinta. Sikap Ismail mengingatkan bahwa ketenangan batin tidak datang dari ketiadaan masalah, tetapi dari cara kita menyikapinya. Orang yang sabar tidak berhenti berusaha, ia hanya berhenti melawan realitas dengan amarah yang tidak produktif.
Mengapa Etika Ini Penting di Zaman Sekarang
Masyarakat modern hidup di tengah dua arus besar: individualisme dan kecepatan. Individualisme membuat orang cenderung mengukur segala hal dari keuntungan pribadi. Kecepatan membuat orang tidak sabar menunggu proses. Akibatnya, muncul budaya instan, mudah menyerah, dan minim tanggung jawab moral.
Kisah Ibrahim AS dan Ismail AS menawarkan koreksi. Ibrahim AS mengingatkan bahwa manusia butuh pegangan nilai yang tidak bisa ditawar, bahkan ketika itu merugikan secara material. Ismail AS mengingatkan bahwa tidak semua hal bisa dipercepat atau dipaksa. Ada saatnya manusia belajar menunggu dan menerima.
Kombinasi keduanya membentuk etika yang seimbang: berani bertindak berdasarkan prinsip, sekaligus rendah hati menerima keterbatasan. Tanpa keseimbangan ini, aktivisme sosial bisa berubah menjadi frustrasi, dan sikap pasrah bisa berubah menjadi apatis.
Dari Ritual Menjadi Praktik Hidup
Ritual kurban pada Idul Adha sering dipahami sebagai penyembelihan hewan. Padahal, makna yang lebih dalam adalah penyembelihan ego, keserakahan, dan keengganan untuk berubah.
Jika etika Ibrahim AS dan Ismail AS dipraktikkan, maka seorang pejabat akan lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan, seorang mahasiswa akan lebih tekun dalam belajar meskipun hasilnya belum terlihat, dan seorang orang tua akan lebih sabar mendidik anak di tengah gempuran teknologi.
Pada akhirnya, ketaqwaan dan kesabaran bukan warisan masa lalu. Ia adalah bekal yang sangat dibutuhkan manusia modern untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin mekanis dan pragmatis. (**)



0 Komentar