Breaking News

Qurban dan Makan Bergizi Gratis: Menyatukan Kesalehan Langit dan Kepedulian Bumi

 


Qurban dan Makan Bergizi Gratis: Menyatukan Kesalehan Langit dan Kepedulian Bumi

Oleh: Moh. Safrudin

(Dosen Ilmu Al-qur’an dan Tafsir IAIN kendar)i

Setiap kali bulan Zulhijah tiba, umat Islam di seluruh dunia menyambut salah satu momentum spiritual terbesar dalam kalender Islam, yaitu ibadah qurban. Jutaan hewan disembelih sebagai simbol ketaatan kepada Allah Swt., meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan manifestasi ketakwaan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan sekaligus manusia dengan sesamanya.

Di sisi lain, Indonesia saat ini sedang mengembangkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu strategi nasional dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program ini lahir dari kesadaran bahwa persoalan gizi, stunting, dan ketimpangan akses pangan masih menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi. MBG bukan hanya proyek kesehatan, tetapi juga proyek kemanusiaan yang menyangkut masa depan bangsa.

Menariknya, qurban dan MBG sesungguhnya memiliki titik temu yang sangat kuat. Keduanya berbicara tentang makanan, distribusi kesejahteraan, dan keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan. Jika qurban merupakan ekspresi kesalehan vertikal kepada Allah, maka MBG adalah bentuk kepedulian horizontal kepada sesama manusia. Keduanya dapat dipadukan dalam satu visi besar: menghadirkan agama yang tidak berhenti di langit, tetapi juga membumi dalam bentuk kemaslahatan sosial.

Dalam konteks inilah, qurban dan MBG perlu dipandang bukan sebagai dua program yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan sebagai dua instrumen yang dapat saling memperkuat untuk menciptakan masyarakat yang sehat, adil, dan berkeadaban.

Qurban: Dari Ritual Menuju Keadilan Sosial

Al-Qur'an menjelaskan:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa esensi qurban bukanlah pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada kualitas ketakwaan yang melandasinya. Menurut Ibnu Katsir, Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan qurban, tetapi Dia menilai keikhlasan hati dan ketaatan pelakunya.

Namun demikian, ketakwaan yang diterima Allah tidak berhenti pada ranah batin. Ketakwaan harus menghadirkan dampak sosial yang nyata. Karena itu, distribusi daging qurban kepada fakir miskin menjadi bagian integral dari ibadah tersebut.

Dalam perspektif tafsir sosial, qurban merupakan instrumen pemerataan ekonomi. Pada hari-hari biasa, tidak semua keluarga mampu menikmati konsumsi protein hewani secara memadai. Melalui qurban, masyarakat miskin memperoleh akses terhadap makanan bergizi yang mungkin jarang mereka nikmati.

Pemikir Muslim kontemporer Muhammad Abduh menekankan bahwa syariat Islam selalu mengandung dimensi kemaslahatan sosial. Sebuah ibadah dianggap sempurna ketika mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam kerangka ini, qurban bukan hanya ibadah individual, tetapi juga mekanisme solidaritas sosial yang dirancang Islam sejak berabad-abad lalu.

Sayangnya, dalam praktiknya, semangat sosial qurban kadang tereduksi menjadi simbol prestise keagamaan. Tidak sedikit orang yang lebih bangga pada ukuran sapi yang dikurbankan daripada manfaat yang diterima masyarakat. Padahal Nabi Muhammad saw. mengajarkan bahwa nilai suatu amal terletak pada ketulusan dan kemanfaatannya.

Qurban yang hanya menjadi ajang pamer kesalehan akan kehilangan ruhnya. Sebaliknya, qurban yang mampu menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat miskin akan menjadi perwujudan nyata dari ketakwaan sosial.

MBG dan Misi Kemanusiaan Modern

Program Makan Bergizi Gratis lahir dari kenyataan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait kualitas gizi masyarakat. Masalah stunting, kekurangan protein, anemia, dan ketimpangan akses pangan masih ditemukan di berbagai daerah.

Dalam perspektif pembangunan manusia, makanan bukan sekadar kebutuhan biologis. Makanan adalah fondasi pendidikan, kesehatan, dan produktivitas ekonomi. Anak yang kekurangan gizi akan mengalami hambatan perkembangan kognitif. Akibatnya, kualitas sumber daya manusia ikut terpengaruh.

Karena itu, MBG dapat dipahami sebagai investasi kemanusiaan jangka panjang. Negara hadir untuk memastikan bahwa setiap anak memperoleh hak dasar berupa makanan bergizi.

Jika dilihat dari sudut pandang Islam, tujuan MBG sangat dekat dengan prinsip maqashid al-syariah, khususnya hifz al-nafs (menjaga jiwa) dan hifz al-nasl (menjaga keturunan). Syariat Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjamin keberlangsungan hidup manusia secara layak.

Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa seluruh hukum Islam bertujuan menjaga kemaslahatan manusia. Salah satu bentuk kemaslahatan paling mendasar adalah terpenuhinya kebutuhan pangan.

Dalam konteks ini, MBG bukan sekadar program pemerintah, tetapi juga bagian dari nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan dengan semangat Islam. Memberi makan orang yang membutuhkan bahkan termasuk amal yang sangat dianjurkan Al-Qur'an.

Allah berfirman:

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan." (QS. Al-Insan [76]: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa memberi makan merupakan tindakan yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dengan demikian, MBG dapat dipandang sebagai bentuk aktualisasi nilai-nilai Islam dalam kebijakan publik.

Menemukan Titik Temu antara Qurban dan MBG

Secara sepintas, qurban adalah ibadah ritual sedangkan MBG adalah program sosial negara. Namun jika ditelaah lebih dalam, keduanya memiliki tujuan yang serupa: menghadirkan kesejahteraan bagi manusia.

Qurban menghasilkan distribusi protein hewani kepada masyarakat. MBG bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Keduanya sama-sama bergerak dalam bidang ketahanan pangan dan kesehatan publik.

Di sinilah peluang sinergi dapat dibangun.

Momentum Iduladha dapat dijadikan sarana edukasi nasional tentang pentingnya gizi. Daging qurban tidak hanya dibagikan sebagai simbol berbagi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan peningkatan kualitas pangan masyarakat.

Masjid, lembaga zakat, pesantren, sekolah, dan pemerintah daerah dapat bekerja sama mengelola distribusi daging qurban secara lebih terencana. Daging yang selama ini hanya dikonsumsi sesaat dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki daya tahan lebih lama sehingga manfaatnya lebih berkelanjutan.

Model distribusi seperti ini telah diterapkan oleh berbagai lembaga filantropi modern melalui pengalengan dan pengolahan daging qurban. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ibadah ritual dapat dikembangkan menjadi instrumen pemberdayaan sosial yang lebih luas.

Dengan demikian, qurban tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga bagian dari upaya nasional memperkuat ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat.

Perspektif Tafsir: Ketakwaan yang Membumi

Banyak ayat Al-Qur'an menegaskan bahwa kesalehan tidak cukup hanya diwujudkan dalam ritual.

Allah berfirman:

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah ... dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin..." (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini mengoreksi kecenderungan manusia yang sering memahami agama hanya dalam bentuk ritual formal. Al-Qur'an menegaskan bahwa iman harus melahirkan kepedulian sosial.

Dalam konteks qurban dan MBG, pesan ayat tersebut sangat relevan. Kesalehan yang sejati adalah kesalehan yang mampu menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.

Qurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui pengorbanan. MBG mengajarkan bahwa cinta kepada sesama harus diwujudkan melalui pelayanan sosial. Ketika keduanya dipertemukan, lahirlah model keberagamaan yang utuh: taat kepada Tuhan sekaligus peduli kepada manusia.

Kritik terhadap Kesalehan Simbolik

Fenomena yang sering muncul dalam masyarakat modern adalah berkembangnya kesalehan simbolik. Banyak orang berlomba-lomba menunjukkan identitas keagamaannya, tetapi kurang peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Kita sering menyaksikan perayaan keagamaan berlangsung meriah, sementara masih banyak anak yang mengalami kekurangan gizi. Kita melihat hewan qurban bernilai puluhan juta rupiah, tetapi pada saat yang sama masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Kritik ini bukan untuk mengurangi nilai ibadah qurban. Sebaliknya, kritik ini bertujuan mengembalikan qurban kepada ruh aslinya sebagai ibadah pembebasan sosial.

Pemikir Muslim Pakistan Fazlur Rahman menegaskan bahwa pesan moral Al-Qur'an harus diterjemahkan ke dalam realitas sosial. Agama tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus menghasilkan transformasi kehidupan.

Karena itu, ukuran keberhasilan qurban tidak hanya dilihat dari jumlah hewan yang disembelih, tetapi juga dari sejauh mana qurban mampu memperkuat solidaritas sosial dan mengurangi kesenjangan.

MBG menawarkan peluang konkret untuk mewujudkan semangat tersebut. Program ini dapat menjadi jembatan antara ritual keagamaan dan agenda pembangunan manusia.

Perspektif Tasawuf: Menyembelih Ego, Menghidupkan Empati

Dalam tradisi tasawuf, qurban memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada penyembelihan hewan.

Jalaluddin Rumi memandang qurban sebagai simbol penyembelihan ego manusia. Yang harus dikorbankan bukan hanya hewan, tetapi juga kesombongan, ketamakan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Sementara itu, Abu Yazid al-Bustami menekankan bahwa kedekatan kepada Allah hanya dapat dicapai ketika seseorang mampu mengalahkan ego dirinya.

Jika makna ini diterapkan dalam konteks sosial, maka qurban seharusnya melahirkan empati yang lebih besar terhadap penderitaan orang lain. Orang yang berqurban tidak cukup merasa telah menjalankan kewajiban agama. Ia juga harus terdorong untuk memikirkan nasib masyarakat yang hidup dalam kekurangan.

Di sinilah MBG menemukan relevansinya. Program ini bukan semata urusan administrasi negara, tetapi juga panggilan moral untuk menghadirkan kepedulian sosial yang lebih luas.

Ketika qurban dipahami sebagai latihan mengalahkan ego, maka dukungan terhadap program perbaikan gizi masyarakat menjadi bagian dari pengamalan nilai qurban itu sendiri.

Membangun Peradaban Berbasis Kepedulian

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar lahir bukan hanya karena kemajuan teknologi, tetapi juga karena kuatnya solidaritas sosial.

Islam pada masa awal berkembang karena berhasil membangun masyarakat yang peduli terhadap kelompok rentan. Anak yatim, fakir miskin, dan kaum lemah memperoleh perlindungan yang jelas dalam sistem sosial Islam.

Hari ini, Indonesia membutuhkan semangat yang sama. Bonus demografi tidak akan menghasilkan kemajuan jika kualitas gizi generasi muda masih rendah. Sebaliknya, investasi pada kesehatan dan gizi akan menghasilkan generasi yang lebih cerdas, produktif, dan berdaya saing.

Qurban dapat menjadi sumber energi moral bagi gerakan tersebut. Setiap Iduladha, umat Islam diingatkan bahwa sebagian rezeki yang mereka miliki harus dibagikan kepada orang lain. Nilai berbagi inilah yang menjadi fondasi penting bagi pembangunan bangsa.

MBG kemudian hadir sebagai instrumen kebijakan yang memperluas semangat berbagi tersebut ke dalam skala nasional.

Ketika agama dan kebijakan publik bergerak dalam arah yang sama, maka lahirlah sinergi yang mampu menghasilkan perubahan sosial yang signifikan.

Penutup

Qurban dan Program Makan Bergizi Gratis sesungguhnya tidak berada pada dua dunia yang berbeda. Keduanya bertemu dalam satu titik yang sama: keberpihakan kepada kehidupan manusia.

Qurban mengajarkan bahwa ketakwaan harus diwujudkan melalui pengorbanan dan berbagi. MBG mengajarkan bahwa kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Yang satu berasal dari langit sebagai tuntunan wahyu, sementara yang lain hadir di bumi sebagai ikhtiar kebijakan.

Ketika qurban hanya dipahami sebagai ritual, ia berisiko kehilangan daya transformasinya. Sebaliknya, ketika qurban dipadukan dengan semangat perbaikan gizi dan kesejahteraan masyarakat, ia menjelma menjadi kekuatan sosial yang luar biasa.

Masyarakat Indonesia membutuhkan model keberagamaan yang tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga aktif memberi makan yang lapar; tidak hanya khusyuk beribadah, tetapi juga peduli terhadap kesehatan generasi masa depan. Inilah hakikat Islam yang rahmatan lil alamin: menghadirkan kasih sayang Allah dalam realitas kehidupan manusia.

Pada akhirnya, qurban dan MBG mengajarkan satu pesan penting: kesalehan sejati bukan hanya tentang hubungan manusia dengan langit, tetapi juga tentang tanggung jawabnya terhadap bumi. Ketika keduanya bersatu, lahirlah peradaban yang tidak hanya religius, tetapi juga berkeadilan, sehat, dan penuh kepedulian. Sebuah peradaban yang menjadikan ketakwaan sebagai energi untuk memuliakan manusia. Wallahu ‘alam bissawab 


0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Media Online sultrapos.id