![]() |
| Ilustrasi |
MUNA BARAT, SULTRAPOS.ID – Proyek penanganan cross drain pada ruas batas Kota Raha–Tondasi di Kabupaten Muna Barat menuai sorotan dan keluhan dari masyarakat. Pasalnya, jalan darurat yang dibuat selama proses pengerjaan proyek dinilai membahayakan pengguna jalan karena berlumpur, licin, dan sulit dilalui, terutama saat hujan turun.
Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi pekerjaan, proyek tersebut merupakan kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Tenggara. Proyek “Penanganan Cross Drain Ruas BTS Kota Raha–Tondasi” itu memiliki nilai kontrak sebesar Rp1.878.328.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
Pekerjaan dilaksanakan oleh CV. Rajawali Raya Engineering dengan konsultan supervisi PT. Arci Pratama Consultant dan masa pelaksanaan selama 180 hari kalender.
Namun di tengah pelaksanaan proyek, masyarakat justru mengeluhkan kondisi jalan alternatif atau jalan darurat yang disiapkan pihak pelaksana. Saat hujan mengguyur, akses tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang sangat licin sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas.
“Kalau hujan turun, jalannya sangat becek dan licin. Banyak motor tergelincir, bahkan sudah ada warga yang jatuh saat lewat,” ujar salah seorang warga yang melintas di lokasi proyek.
Warga menilai pihak pelaksana proyek kurang memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan. Jalan darurat yang seharusnya menjadi solusi sementara justru dianggap tidak layak digunakan karena minim pengerasan dan tidak memiliki sistem drainase yang baik.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat, terutama bagi pengendara yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk aktivitas kerja, sekolah, maupun kebutuhan lainnya. Selain licin, kendaraan juga kerap terjebak lumpur hingga sulit bergerak.
Masyarakat berharap Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Tenggara bersama kontraktor pelaksana segera mengambil langkah cepat dengan melakukan pengerasan jalan darurat, penimbunan material, serta pemasangan rambu-rambu keselamatan agar tidak terus menimbulkan kecelakaan.
“Pembangunan infrastruktur memang penting, tetapi keselamatan masyarakat juga harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai proyek dengan anggaran miliaran rupiah justru menyusahkan warga,” kata warga lainnya.
Reporter: Sry




0 Komentar