Breaking News

KKMM Mati Suri, Perlu Dihidupkan dengan Program Nyata Bukan Euforia Politik

Bahar Rustajab (kiri ujung) bersama sejumlah Pemuda Muna Kendari. FOTO: Ist

Oleh: Bahar Rustajab

Penulis merupakan Pemuda Muna Kendari (Munaken)

Sejatinya sejak terbentuknya Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara menjadi wadah penting bagi seluruh masyarakat Muna untuk menggalang dan menggagas berbagai kegiatan positif termasuk menyasar kegiatan sosial kemasyarakatan. Hal itu dilakukan dalam rangka mempererat dan memperkuat rasa kebersamaan dan kekeluargaan serta gotong royong agar KKMM tetap eksis dan bisa di kenal oleh masyarakat luas. 

Bahkan, KKMM bisa berkolaborasi dengan lintas sektor baik itu pemerintah, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan dan kerukunan ataupun paguyuban dari daerah lain yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra) maupun nasional pada umumnya. Sehingga terjalin silaturahmi yang baik sesama masyarakat dalam satu wilayah.

Namun, setelah terbentuk beberapa tahun terakhir, KKMM sudah tidak sejalan dengan visi dan misi awalnya dalam membesarkan kerukunan masyarakat Muna. Sehingga banyak kalangan menilai KKMM di Kota Kendari dinilai mengalami mati suri. Sehingga untuk menghidupkannya kembali, dibutuhkan kesadaran kolektif dan kepemimpinan yang merangkul semua pihak, bukan sekadar kegiatan seremonial. Apalagi saat ini KKMM Sultra ibarat kapal laut telah memiliki nahkoda baru. 

Tentunya dengan memiliki nahkoda baru KKMM Sultra, kapal itu tidak hanya berhenti berlayar pada satu pelabuhan atau dermaga. Namun, tetap berlayar di seluruh penjuru negeri untuk membesarkan KKMM. Ditambah pengurus KKMM Sultra saat ini memiliki sumber daya manusia (SDM) yang punya kualitas jadi bisa dipastikan bahan bakar sangat cukup untuk membuat kapal berlayar lebih jauh.

Kritik Terhadap Euforia Sesaat

Selama ini KKMM cenderung hanya aktif saat ada momentum tertentu. Aktivitasnya berhenti pada euforia berkumpul sesaat tanpa program berkelanjutan. Menghidupkan kembali KKMM memerlukan kesadaran kolektif. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua pihak, komunikasi terbuka, kegiatan yang bermanfaat bagi seluruh generasi, serta komitmen menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Dan saat ini belum terlihat kontribusi nyata organisasi terhadap generasi muda Muna di Kendari.

Risiko Politisasi Kerukunan

Jika kerukunan dijadikan alat politik praktis, maka nilai persaudaraan akan bergeser. Anggota tidak lagi dipandang sebagai keluarga besar yang setara, melainkan sebagai komoditas suara. Apabila kerukunan dijadikan alat politik praktis, maka nilai-nilai persaudaraan berisiko bergeser menjadi instrumen mobilisasi massa. Identitas suku dapat dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek, sementara tujuan utama organisasi terabaikan.

Dorongan Kerukunan Inklusif dan Produktif

Kerukunan keluarga bukan hanya soal berkumpul atas dasar ikatan darah, suku, atau daerah asal. Kerukunan sejati adalah kekuatan sosial untuk membangun kesejahteraan bersama. Ia merinci, kerukunan yang berorientasi kesejahteraan harus berjalan berkelanjutan melalui program nyata. Contohnya pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, beasiswa pendidikan, kegiatan sosial, pelestarian budaya, dan penguatan solidaritas antar keluarga.

Kerukunan yang kokoh adalah yang mampu mengubah persaudaraan menjadi kekuatan, kekuatan menjadi kerja sama, kerja sama menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan bersama untuk mendorong terwujudnya kerukunan yang inklusif. Artinya, seluruh anggota diberi ruang untuk berpartisipasi tanpa membedakan status sosial, profesi, usia, jenis kelamin, pendidikan, ekonomi, maupun pilihan politik.

Kerukunan inklusif tidak bertanya, 'Siapa yang paling berpengaruh? Melainkan bertanya, Apa yang dapat kita lakukan bersama agar seluruh keluarga tumbuh, maju, dan sejahtera?

Visi ke Depan

Visi yang ingin diwujudkan: Mewujudkan kerukunan keluarga yang inklusif, berlandaskan persaudaraan, menjunjung musyawarah, menghargai keberagaman, serta berorientasi pada kesejahteraan dan kemajuan bersama.

Sehingga tujuan akhirnya adalah menciptakan manfaat nyata melalui penguatan silaturahmi, pelestarian budaya, peningkatan kualitas SDM, pemberdayaan ekonomi, kepedulian sosial, dan pembangunan generasi penerus yang berkarakter. (**)

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Media Online sultrapos.id