MUNA BARAT, SULTRAPOS.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Kabupaten Muna Barat (Mubar). Dua peserta didik SMP Negeri 1 Napano Kusambi berhasil mengukir prestasi dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kedua siswa tersebut adalah Bonita Noveria, siswi kelas VIII.A, yang berhasil meraih Juara II kategori menyanyi lagu daerah, serta Muhammad Celsin, siswa kelas IX.B, yang sukses menduduki peringkat pertama dalam kategori menulis cerita pendek (cerpen).
Capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SMPN 1 Napano Kusambi sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Muna Barat di tingkat provinsi. Prestasi ini juga menunjukkan bahwa generasi muda daerah memiliki potensi besar dalam bidang literasi, seni, dan pelestarian bahasa serta budaya lokal.
Berdasarkan informasi yang disampaikan guru pendamping, proses penilaian hingga pengumuman pemenang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Dalam pengumuman hasil kompetisi, kategori menyanyi lagu daerah menempatkan SMPN 2 Raha, Kabupaten Muna, sebagai peraih peringkat pertama. Sementara itu, Bonita Noveria dari SMPN 1 Napano Kusambi, Kabupaten Muna Barat, berhasil meraih posisi kedua.
Adapun pada kategori menulis cerpen, Muhammad Celsin dari SMPN 1 Napano Kusambi berhasil meraih peringkat pertama. Posisi kedua diraih Asnita dari SMPN 2 Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat.
Keberhasilan kedua siswa tersebut memperlihatkan bahwa peserta didik dari Muna Barat mampu bersaing dan menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam kompetisi yang mengangkat kekayaan bahasa dan budaya daerah.
FTBI, Wadah Pelestarian Bahasa Daerah bagi Generasi Muda
Festival Tunas Bahasa Ibu merupakan ajang yang mendorong pelestarian dan pengembangan bahasa daerah di kalangan generasi muda, khususnya peserta didik jenjang sekolah dasar dan menengah. Dalam pelaksanaannya, kegiatan revitalisasi bahasa daerah di Sulawesi Tenggara antara lain mencakup Bahasa Muna, Bahasa Wolio, dan Bahasa Tolaki.
Melalui festival ini, para peserta didik diberikan ruang untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, mengasah kreativitas, serta menumbuhkan kecintaan terhadap identitas dan warisan budaya daerah.
Berbagai cabang perlombaan diselenggarakan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan bahasa ibu, di antaranya menulis cerpen, mendongeng, dan menyanyikan lagu daerah.
Pada kategori menulis cerpen, peserta ditantang menghasilkan karya orisinal berdasarkan tema yang ditentukan panitia melalui stimulus visual berupa foto. Karya ditulis tangan pada kertas folio dengan panjang minimal dua halaman, serta harus memperhatikan penggunaan ejaan, tanda baca, dan keaslian tulisan.
Ketentuan tersebut tidak hanya menguji kemampuan peserta dalam merangkai cerita, tetapi juga melatih daya imajinasi, keterampilan literasi, dan kemampuan mengekspresikan gagasan melalui bahasa daerah.
Dengan demikian, FTBI bukan sekadar ajang perlombaan untuk memperebutkan juara, melainkan juga sarana pendidikan budaya yang mempertemukan kreativitas, kemampuan berbahasa, dan upaya pelestarian warisan leluhur.
Prestasi Siswa Jadi Kebanggaan Sekolah dan Daerah
Prestasi yang diraih Bonita Noveria dan Muhammad Celsin menjadi pencapaian yang patut diapresiasi. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari potensi peserta didik yang perlu terus dikembangkan melalui pembinaan, pendampingan guru, dukungan keluarga, serta lingkungan sekolah yang mendorong lahirnya generasi berprestasi.
Lebih dari sekadar penghargaan dalam sebuah kompetisi, capaian ini menjadi pengingat bahwa bahasa daerah memiliki nilai penting dalam membentuk identitas budaya masyarakat. Pelestariannya membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama generasi muda sebagai penerus tradisi dan kebudayaan.
Sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuan mereka. Dukungan yang berkelanjutan diharapkan dapat melahirkan lebih banyak generasi muda yang berprestasi tanpa meninggalkan akar budaya daerahnya.
Keberhasilan dua siswa SMPN 1 Napano Kusambi ini diharapkan menjadi motivasi bagi peserta didik lainnya di Kabupaten Muna Barat untuk terus belajar, berkarya, dan berani berkompetisi di berbagai bidang.

0 Komentar